transfer embrio

Sudah pernahkah Anda mendengar istilah Blastokista? Blastokista merupakan embrio yang telah berkembang selama lima sampai tujuh hari setelah pembuahan. Selanjutnya embrio tersebut dibedakan menjadi dua jenis yaitu trophectoderm dan massa sel dalam rongga dan rongga sel berisi cairan (rongga blastocoel).

Pada zaman dulu mungkin proses pembuahan sel telur oleh sel sperma hanya bisa dilakukan di dalam ovarium wanita. Akan tetapi seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, kini proses pembuahan sel telur bisa dilakukan secara klinis di laboratorium. Hal ini untuk membantu dan meningkatkan peluang bagi pasangan yang sulit mendapatkan keturunan secara alami.

Lalu apa sebenarnya blastokista itu, bagaimana prosesnya dan apa tujuan dari budidaya embrio ini? 

Pengertian Blastokista

Blastokista adalah embrio yang berusia empat hingga sembilan hari setelah masa pembuahan dan terdiri dari 100 – 200 sel total dan berdiameter sekitar 1/10 milimeter. Tahap perkembangan ini adalah sebelum implantasi di dalam rahim. Embrio yang perkembang pada masa ini hanya ada dua jenis yaitu trophectoderm (dasar plasenta) dan massa sel (ICM). Nantinya keduanya akan memberikan kontribusi sel ke jaringan ekstraembrionik serta seluruh janin.

Bagi yang belum tahu, embrio yang berusia antara empat hingga tujuh hari ini bentuknya seperti bola berongga berisi cairan sel trofektoderm di mana massa sel akan membentuk benjolan sedikit pada dinding dalam. Pada tahap perkembangan inilah sebagian besar sel induk embrionik akan diperoleh.

Baca juga: Apa Itu Inseminasi Buatan? Simak Pengertian Lengkapnya di Sini

Proses Budidaya Blastokista

Biasanya perkembangan embrio pada manusia yang telah dibuahi tersebut akan ditransfer ke rahim setelah 48 jam pada tahap sel ke 4 – 8. Pada pembuahan alami, embrio mencapai rongga rahim pada hari kelima. Akan tetapi dengan teknologi yang semakin canggih, saat ini dokter bisa membudidayakan embrio hingga menjadi blastokista di laboratorium.

Prosedur pembudidayaan blastokista dan pemindahan embrio yang berumur 5 hari memfasilitasi pemilihan embrio kualitas terbaik untuk dipindahkan ke dalam rahim ibu. Cara budidaya dan pemindahan blastokista ini selanjutnya akan menghasilkan kehamilan klinis atau lebih dikenal dengan bayi tabung atau fertilisasi in vitro. 

Teknik budidaya embrio ini sangat membantu dalam memilih dan menilai kapasitas perkembangan embrio untuk mendapatkan embrio terbaik yang akan ditanam atau ditransfer ke dalam rahim ibu. Dengan cara ini, Anda bisa memilih dan mentransfer embrio terbaik untuk bisa menghasilkan kehamilan. Akan tetapi tidak semua embrio manusia bisa mencapai tahap blastokista. Hanya blastomer adalah yang memiliki kualitas terbaik yang akan bisa masuk laboratorium dan masuk ke dalam rahim ibu. 

Keberhasilan dari budidaya blastokista ini tergantung dari hasil perkembangan media yang dirancang untuk mendukung pengembangan blastokista. Salah satu syarat utama jika ingin budidaya embrio ini berhasil adalah embrio manusia harus bisa berubah setelah dua hari pertama masa budidaya dimulai.

Baca juga: Berikut 5 Proses Bayi Tabung yang Harus Anda Ketahui

Tujuan Budidaya Blastokista

Pada dasarnya tujuan dari budidaya blastokista ini sangat berguna terutama bagi pasangan yang kesulitan untuk memiliki anak secara alami. Di bawah ini beberapa tujuan budidaya embrio manusia yang perlu Anda ketahui.

  • Membantu pasangan yang telah gagal untuk mencapai kehamilan meskipun telah di transfer tiga kali atau lebih dengan embrio yang jelas berkualitas baik
  • Membantu pasangan yang prihatin terhadap risiko kehamilan ganda dan hanya ingin memiliki satu embrio yang ditransfer ke rahim
  • Membantu pasangan dengan delapan atau lebih embrio beku yang ingin mengoptimalkan hasil siklus transfer embrio beku 
  • Membantu pasangan yang telah melakukan berbagai terapi lain dan ingin menilai potensi perkembangan embrio mereka.

Baca juga: Begini Cara Meningkatkan Kualitas Sperma Agar Cepat Hamil

Perbedaan Budidaya Blastokista dan Perawatan Konvensional IVF

Pada dasarnya budidaya blastokista dan perawatan konvensional IVF tidak memiliki perbedaan yang mencolok. Perbedaannya hanya ada pada hari dimana embrio ditransfer saja. Pada budidaya blastokista, embrio ditransfer pada hari ke 5 atau ke 6 setelah pengambilan sel telur. Akan tetapi pada perawatan konvensional IVF, transfer embrio dilakukan pada hari ke 2 atau ke 3. Meskipun demikian, waktu transfer ini mungkin saja berbeda tergantung dari berapa hari embrio menempel setelah et dan berhasil tumbuh menjadi blastokista yang sehat.

Perlu anda ketahui, budidaya embrio ini tetap memiliki kemungkinan embrio tidak bisa berkembang ke tahap blastokista. Jika embrio ternyata tidak bisa berkembang maka transfer blastokista akan dihentikan. Perlu dipahami juga bahwa pemindahan blastokista bukan menjadi opsi untuk semua pasien IVF. Biasa teknik ini memiliki kemungkinan berhasil yang lebih besar untuk pasien mudah memiliki banyak sel telur selama pengambilan.

Rata-rata pasien yang memiliki enam atau lebih embrio berkualitas tinggi pada hari ketiga merupakan kandidat terbaik untuk melakukan budidaya blastokista ini. Pada tahap ini trofoblas adalah sudah berkembang dengan cukup baik dan sehat. Hal ini karena adanya kesempatan yang lebih baik bagi embrio untuk bisa berkembang dengan sempurna pada hari ke-5.

Pasien yang Tidak Bisa Melakukan Blastokista

Tidak semua pasangan atau pasien bisa melakukan budidaya blastokista. Hal ini berlaku jika embrio adalah tidak melebihi enam buah maka proses budidaya akan kurang bermanfaat. Jika terjadi hal demikian, maka kesempatan untuk memiliki dua blastokista yang berkembang sempurna adalah sangat tipis. Jika tidak ada embrio yang berkembang pada tahap blastokista ini, maka kemungkinan budidaya tersebut berhasil akan sangat kecil

Baca juga: Mengenal Proses Fertilisasi dan Syarat Terjadinya

Kelemahan Budidaya Blastokista

Meskipun bisa menjadi salah satu upaya untuk memperbesar peluang kehamilan, akan tetapi anda juga perlu tahu bahwa budidaya blastokista juga memiliki kelemahan dan ada kemungkinan tidak ada embrio yang cocok untuk ditransferkan ke rahim. Jika embrio tidak bisa mencapai tahap blastokista di laboratorium itu artinya proses perkembangan embrio dari zigot sampai lahir telah gagal sehingga transfer embrio tidak bisa dilakukan.

Budidaya blastokista bisa menjadi pilihan bagi pasangan yang kesulitan mendapatkan keturunan atau ingin mendapatkan keturunan dari embrio yang terbaik. Meskipun demikian, untuk bisa sampai pada tahap menjadi apa itu janin masih ada banyak proses yang perlu anda lalui. Jadi budidaya ini hanya untuk memastikan embrio bisa hidup dan berkembang sebelum ditransfer ke rahim ibu untuk proses pematangan hingga berkembang menjadi janin yang sempurna.

Itulah ulasan menarik seputar budidaya blastokista yang perlu Anda ketahui. Perkembangan teknologi yang semakin tinggi memang membuat banyak hal yang dulunya tidak mungkin menjadi mungkin untuk dilakukan. Dengan adanya budidaya embrio ini, diharapkan bisa membantu pasangan untuk mendapatkan keturunan dari embrio yang berkualitas. Akan tetapi sebelum memilih untuk melakukan metode ini pastikan ketahui dulu kelebihan dan kekurangannya agar tidak menyesal. Pastikan juga siapkan biaya yang tidak sedikit jika ingin melakukan budidaya embrio ini.