Logo Morula
Kembali

Menjawab Pertanyaan “Kapan Punya Anak?”

/media/images/2017/11/22/kapan punya anak 2.jpg

Sakitnya Pertanyaan “Kapan Punya Anak?”

 

Berkumpul bersama keluarga dan kerabat terkasih adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian besar orang. Namun, hal tersebut dapat menjadi kegiatan yang sulit sekaligus menakutkan bagi beberapa pasangan yang belum memiliki anak. Ini terjadi karena satu hal: pertanyaan mengenai anak yang akan mereka hadapi. Mulai dari pertanyaan kapan akan punya anak, mengapa belum juga berhasil memiliki anak, maupunn membandingkan pasangan ini dengan pasangan yang sudah memiliki anak. Beberapa orang bahkan menjadikan keadaan pasangan yang masih berjuang ini sebagai bahan bercanda. Sebagai orang terdekat dari pasangan-pasangan yang mengalami keadaan sulit memiliki anak, mungkin kita merasa pertanyaan tersebut hal yang wajar sebagai pembuka obrolan maupun memenuhi keingintahuan kita. Akan tetapi, bagaimana sebenarnya menurut pasangan itu sendiri?

Pasangan yang kesulitan memiliki anak kerap kali mengalami penderitaan emosional karena pertanyaan bertubi-tubi dan reaksi orang lain terhadap keadaannya. Persentase ini terjadi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal tersebut dikarenakan masih adanya pandangan bahwa tidak punya anak adalah masalah perempuan, terutama di budaya-budaya yang sangat menekankan pentingnya punya anak seperti Indonesia. Padahal, secara medis infertilitas juga dapat terjadi karena faktor laki-laki. Hal ini yang membuat perempuan lebih banyak mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar belum hadirnya anak dalam keluarga mereka. Keadaan ini membuat mereka merasa berbeda dari orang lain, tidak utuh sebagai perempuan, dan tidak berharga. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan laki-kaki juga merasakan penderitaan yang sama seperti pasangannya. Semakin banyak dan kerasnya pertanyaan yang diberikan, semakin hancur diri dan perasaan mereka.

Apakah Anda memiliki saudara atau orang terdekat yang belum memiliki anak? Bila iya, coba kita renungkan. Apa kita pernah menanyakan mengenai anak kepada mereka? Kalau jawabannya iya, mari kita renungkan lagi. Bagaimana cara Anda menanyakannya? Bagaimana respons yang diberikan oleh pasangan tersebut? Bila sudah, mari kita tanyakan ke lubuk hati kita paling dalam. Apa alasan kita menanyakannya? Apakah memang karena kita peduli dengan mereka, atau hanya sekedar ingin tahu?

Sebagai orang terdekat yang peduli, terkadang kita tidak menyadari bahwa bentuk perhatian kita dinilai berbeda oleh pasangan yang mendapat pertanyaan mengenai anak. Mereka dapat menilai pertanyaan tersebut sebagai sesuatu yang menekan. Oleh karena itu, hal-hal berikut perlu Anda perhatikan ketika Anda akan bertanya mengenai anak kepada mereka yang belum memiliki anak:

  1. Hindari bentuk pertanyaan yang menghakimi seperti “Kapan...”, “Kok....”, “Kenapa....”. Bentuk pertanyaan seperti itu dapat membuat mereka merasa disalahkan atas keadaan yang sebenarnya juga mereka tidak inginkan.
  2. Hindari memberi label maupun komentar negatif pada mereka, seperti membandingkan dengan orang lain, meledek, maupun memberikan sebutan yang buruk pada mereka. Hal tersebut dapat membuat mereka merasa rendah diri dan tidak berharga.
  3. Tidak menanyakan di depan orang banyak dalam keadaan ramai. Cari waktu yang cukup nyaman dan sepi bila memang Anda ingin memberikan perhatian pada orang terdekat Anda itu.
  4. Tunggu waktu sampai mereka benar-benar merasa nyaman menceritakan keadaannya pada Anda. Anda dapat menyampaikan pada mereka bahwa Anda peduli dan akan ada untuk mereka ketika mereka membutuhkan dukungan. Tawarkan kehadiran Anda untuk mendengarkan mereka, bukan untuk memaksa mereka menceritakan. Bila Anda merasa tidak dapat memberikan dukungan dan kenyamanan ketika mereka menceritakan keadaannya, jangan memaksakan mereka untuk bercerita.
  5. Tidak menanyakan secara bertubi-tubi. Dengarkan apa yang mereka ceritakan dengan penuh perhatian, kasih sayang, dan empati. Hal ini lebih baik dibandingkan memberi komentar atau bertanya secara detil.
  6. Tidak memberikan saran sebelum Anda mengetahui usaha-usaha apa saja yang sudah pernah mereka lakukan untuk mengupayakan anak. Tanyakan secara halus bagaimana mereka ingin Anda bersikap pada mereka untuk membuat mereka lebih nyaman. Hal ini merupakan salah satu bentuk bantuan yang Anda dapat berikan kepada mereka.
  7. Pastikan diri Anda bahwa Anda melakukannya karena peduli, bukan hanya keingintahuan semata.

 

Mari kita lihat orang-orang di sekitar kita. Cukup bijaksana kah kita ketika berhadapan dengan orang terdekat kita yang belum memiliki anak? Mari kita rangkul mereka dan buat mereka nyaman untuk berkumpul bersama kita.

 

Penulis: Arina M. Budiani., M.Psi., Psikolog

Dengan mendaftar di Morula IVF, Anda akan mendapatkan
informasi terbaru tentang bayi tabung dan bisa berkonsultasi
gratis dengan kami.
Daftar Sekarang
Pudah punya akun?

Masuk ke Akun Anda

Lupa Akun Anda?

Link reset password telah dikirim ke alamat email Anda.

Email tidak masuk? Kirim ulang disini!

Password Anda berhasil diubah.

silakan login kembali

Buat Sandi Baru

Buat Sandi Baru

Daftarkan Akun Anda

Silahkan menunggu

Punya pertanyaan?

Jangan ragu, kami akan menghubungi Anda

Ajukan untuk dihubungi