facts about female egg cells

Sebagai wanita dewasa, sebaiknya kita mengenal dan mempelajari terkait berbagai peran organ reproduksi. Salah satunya adalah sel telur wanita yang memiliki peran penting dalam menunjang tingkat kesuburan.

Bersama dengan sperma, sel telur memiliki peran yang sama besar dalam pembentukan janin. Ukuran sel telur sendiri ada pada kisaran 100 mikron atau hampir mirip dengan dimensi sehelai rambut orang dewasa. Ukuran tersebut sekitar 20 kali lebih besar jika dibandingkan dengan ukuran sperma, lho!

Nah, terlepas dari ukuran dan peran sel telur yang sangat penting, berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu diketahui terkait sel telur wanita.

Sel Telur Wanita dalam Proses Kehamilan

Sel telur memiliki peran yang cukup vital dalam menunjang proses kehamilan. Bahkan, bisa dibilang sel telur merupakan penentu terkait tingkat kesuburan pada wanita.

Proses produksi serta pematangan sel telur sendiri terjadi di dalam indung telur atau ovarium. Ketika sel telur dianggap sudah matang dan siap untuk dibuahi, maka selanjutnya sel telur akan dilepas melewati saluran tuba falopi hingga menuju ke rahim.

Saat proses pembuahan akhirnya berhasil terjadi, berikutnya sel telur yang sudah dibuahi akan menuju ke rahim. Dari sini kemudian sel telur akan menempel di dinding rahim dan akan mulai proses perkembangan embrio.

Sementara jika sel telur tidak berhasil dibuahi oleh sperma, maka ia akan hancur dan dikeluarkan bersama dengan jaringan di rahim yang seharusnya berfungsi menopang proses perkembangan janin pada masa subur.

Baca juga: Ternyata Begini Proses Kehamilan Setelah Berhubungan, Wajib Tahu!

Fakta Terkait Sel Telur Wanita yang Perlu Anda Ketahui

Jika dibandingkan dengan sperma, sel telur wanita mempunyai beberapa fakta menarik yang perlu dicermati. Berikut merupakan ulasan terkait fakta menarik dari sel telur dalam proses pembuahan.

1. Memiliki Masa Hidup yang Singkat

Mengutip dari hasil riset Hindawi, ketika wanita mengalami ovulasi maka sel telur akan berjalan melewati saluran tuba falopi kemudian mengalir sampai ke dalam rahim. Tahapan di atas hanya terjadi dalam kurun waktu 12 – 24 jam saja, setelah itu sel telur akan hancur jika dalam rentang waktu tersebut tidak ada sperma yang melakukan pembuahan.

Sel telur yang pecah dan hancur tersebut kemudian akan dikeluarkan bersama jaringan endometrium, lendir serviks, sekresi vagina, serta campuran darah yang biasa dikenal sebagai cairan haid atau menstruasi pada wanita.

2. Sel Telur Banyak yang Mati Sebelum Wanita Mengalami Pubertas

Jumlah sel telur wanita normal ketika lahir ada di angka 700 ribu sampai dua juta sel telur. Jumlah tersebut nantinya akan terus berkurang seiring perkembangan usia. Adapun sebelum masuk masa pubertas rata-rata perempuan akan kehilangan kurang lebih 11 ribu sel telur setiap bulannya, hingga menyisakan sekitar 300 ribu – 400 ribu sel telur ketika masuk usia remaja.

Dari sekian banyak sel telur yang dimiliki dan disimpan di dalam tubuh wanita, secara teknis hanya ada sekitar 500 buah sel telur yang siap digunakan dalam proses ovulasi. Sementara ketika menginjak usia pubertas, wanita rata-rata kehilangan 1000 sel telur setiap bulannya.

3. Selektif Terhadap Sperma

Seperti kita ketahui, sel sperma saling berlomba satu sama lain untuk melakukan pembuahan terhadap sel telur. Namun, tahukah Anda ternyata sel telur juga memiliki sifat selektif dan pemilih terhadap sperma, lho!

Berdasarkan studi di tahun 2011, sel telur akan memilih salah satu sperma lalu melepaskan sel tertentu yang membantu ekor sperma bisa menembus sel telur lebih cepat.

4. Bisa Dibekukan

Mungkin banyak yang belum tahu jika sel telur manusia bisa dibekukan. Prosedur ini bahkan semakin lazim dilakukan, terutama untuk memperbesar peluang kehamilan bagi calon ibu yang menjalani program bayi tabung.

Mayo Clinic memaparkan bahwa proses pembekuan sel telur ini bertujuan untuk mempertahankan kualitas sel telur ketika masih dalam kondisi sehat dan berlimpah. Dengan begitu, maka pasangan suami-istri bisa menggunakannya kapan saja jika sudah siap untuk hamil dan memiliki keturunan.

Prosedur pembekuan sel telur sendiri mayoritas ditujukan untuk wanita yang sudah berusia 30 keatas. Selain itu, proses ini umumnya juga disarankan bagi penderita infertilitas atau untuk menghindari efek obat-obatan jangka panjang yang bisa mengganggu kesehatan janin.

Baca juga: Transfer Embrio Beku: Pengertian, Proses dan Resiko yang Bisa Terjadi

5. Hanya Diproduksi Sekali Seumur Hidup

Fakta terkait sel telur wanita berikutnya yakni hanya diproduksi sekali dalam seumur hidup. Tahukah Anda kalau wanita sudah dibekali dengan sel telur sejak lahir? Tidak seperti pria yang menghasilkan sperma secara berkala di sepanjang hidupnya, sel telur pada wanita sudah ditentukan sejak lahir dan jumlahnya pun terbatas.

Macam-macam Gangguan Pada Sel Telur Wanita

Sel telur memiliki peran penting dalam menentukan kesuburan pada wanita. Berikut ini merupakan beberapa contoh gangguan sel telur wanita sehingga bisa menyebabkan susah hamil.

1. Gangguan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah jenis gangguan yang dipicu oleh kelebihan produksi hormon androgen pada ovarium maupun kelenjar adrenal.

Kondisi ini merupakan satu dari sekian banyak gangguan umum yang relatif sering terjadi pada perempuan, dampak negatifnya sendiri yakni mampu mengganggu pelepasan sel telur ketika ovulasi sehingga kerap menyebabkan infertilitas atau gangguan kesuburan pada perempuan.

Baca juga: Inilah 6 Gejala PCOS yang Umum Terjadi Pada Wanita

2. Kegagalan Berovulasi

Ovulasi merupakan salah satu proses yang terjadi ketika sel telur matang pecah dan mulai bergerak melewati tuba falopi sampai ke rahim untuk melakukan pembuahan dengan sel sperma

Ada banyak faktor yang bisa memicu terjadinya kegagalan ovulasi. Beberapa di antaranya  seperti terdapat kelainan endokrin, penyakit seperti polycystic ovary syndrome (PCOS), sampai faktor penuaan.

3. Penyumbatan pada Tuba Falopi

Tuba falopi merupakan saluran yang biasa dilewati sel telur sebelum masuk ke rahim. Alhasil, jika saluran tuba rusak atau mengalami penyumbatan maka hal ini menyebabkan sel sperma tidak bisa bertemu untuk melakukan proses fertilisasi dengan sel telur wanita.

4. Primary Ovarian Insufficiency (POI)

Secara medis, Primary ovarian insufficiency adalah kondisi dimana ovarium tidak bisa berfungsi secara normal akibat adanya gangguan pada bagian folikel, organ yang bertugas untuk mematangkan sel telur.

Gangguan Primary ovarian insufficiency (POI) bisa dialami oleh wanita meskipun usianya masih belum mencapai 40 tahun. Kendati demikian, penderita kondisi ini masih memiliki peluang untuk hamil dan memiliki keturunan karena masih sanggup menghasilkan sel telur.

Itulah berbagai fakta terkait sel telur wanita serta perannya yang perlu diketahui. Bersama dengan sperma, sel telur adalah syarat wajib yang tidak bisa ditawar untuk bisa menghasilkan bakal janin atau embrio. 

Jika dibandingkan dengan sperma, sel telur juga memiliki batasan dari segi jumlah karena tidak bisa diproduksi oleh wanita seumur hidupnya. Jadi, sangat penting untuk memperhatikan kesehatan serta kualitas sel telur agar nantinya tidak menimbulkan gangguan kesuburan yang bisa berakibat tidak memiliki keturunan.