IVF procedure and risks

Bayi tabung atau biasa juga disebut sebagai In Vitro Fertilization (IVF) adalah sebuah prosedur yang biasa dilakukan untuk membantu pasangan suami-istri yang mengalami gangguan kesuburan.

Mengapa bayi tabung perlu dilakukan? Kesulitan mendapat keturunan menjadi alasan utama munculnya prosedur ini. Namun, ada juga beberapa alasan seperti gangguan organ reproduksi atau orientasi seksual yang membuat cara ini harus dilakukan.

Karena kedua istilah tersebut sama, maka tidak ada perbedaan antara IVF dan bayi tabung. Baik in vitro fertilization (IVF) maupun bayi tabung memiliki pengalaman yang sama, hanya berbeda penyebutannya saja.

Tahapan Prosedur IVF Bayi Tabung

Prosedur in vitro fertilization atau bayi tabung bisa dibilang cukup panjang. Namun, secara umum tahapan prosedur IVF bayi tabung bisa dibagi menjadi lima proses sebagai berikut ini:

1. Mengetahui Siklus Menstruasi

Proses pertama yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk menjalankan prosedur ivf bayi tabung adalah pemantauan siklus haid. Data terkait menstruasi tersebut berperan penting untuk mengetahui secara pasti kapan kondisi rahim masuk masa subur sehingga bisa meningkatkan peluang kehamilan.

Ketika masuk waktu sebelum masa subur, biasanya calon ibu akan dianjurkan untuk mengkonsumsi obat antagonis GnRH seperti Ganirelix atau obat agonis GnRH seperti Lupron. Hal ini merupakan upaya untuk mengontrol siklus ovulasi atau masa subur ketika sedang menjalani program bayi tabung.

2. Proses Pelepasan Sel Telur (Induksi Ovulasi)

Ketika dokter sudah mengetahui siklus menstruasi calon ibu, maka proses selanjutnya yakni melakukan proses induksi atau pelepasan sel telur yang dirangsang oleh konsumsi-obat-obatan. 

Proses induksi ovulasi sendiri pada umumnya membutuhkan waktu sekitar 1 sampai 2 minggu. Adapun selama rentang waktu tersebut calon ibu akan menjalani prosedur USG transvaginal guna memastikan bahwa sel telur mengalami pertumbuhan yang normal.

Pada tahapan ini dokter kandungan juga akan menyuntikkan human chorionic gonadotropin (hCG) sebagai pemicu pematangan oosit hingga siap untuk dilakukan pengambilan.

Baca juga: Berikut 5 Proses Bayi Tabung yang Harus Anda Ketahui

3. Mengambil Telur dari Rahim

Pada program ivf bayi tabung, prosedur pengambilan sel telur dijalankan kurang lebih 34-36 jam setelah calon ibu menerima suntikan human chorionic gonadotropin (hCG). Adapun selama proses pengambilan sel telur, dokter akan memberikan suntikan anestesi atau obat bius sehingga calon ibu tidak merasa sakit.

Metode pengambilan sel telur sendiri biasanya menggunakan USG transvaginal, alat ini berfungsi sebagai pemandu dokter sehingga lebih mudah dalam mengambil sel telur. Sementara itu, oosit yang sudah berhasil diambil nantinya akan langsung dibawa ke laboratorium untuk menjalani proses selanjutnya.

4. Pengambilan Sampel Sel Sperma Pria

Seperti kita ketahui, proses pembuahan atau fertilisasi tidak bisa terjadi tanpa adanya sel telur dan sel sperma yang dihasilkan pria dewasa. Maka dari itu, setelah sel telur berhasil diambil tahapan selanjutnya yakni meminta sampel sel sperma yang dilakukan dengan cara masturbasi.

Selain masturbasi, sebenarnya ada prosedur lain untuk bisa mendapatkan sperma, yakni dengan melakukan operasi secara langsung dari testis. Namun hal ini jarang terjadi mengingat butuh waktu serta biaya ekstra.

Sel sperma sendiri didapatkan dengan cara memisahkan dari air mani sehingga nantinya proses pembuahan bisa langsung terjadi.

5. Pembuahan Hingga Menjadi Embrio

Setelah berhasil mendapatkan sel telur dan sperma, tahapan berikutnya adalah melakukan proses fertilisasi atau pembuahan. Jika dalam kondisi normal, proses pembuahan terjadi di dalam rahim. Maka untuk prosedur IVF bayi tabung fertilisasi dilakukan dalam tabung inkubator di laboratorium.

Sebelumnya, dokter akan memilih sel telur terbaik, kemudian menempatkan kurang lebih 10,000 sperma yang sudah dipisahkan dari komponen air mani serta sudah disortir kualitasnya ke dalam wadah khusus. 

Wadah berbentuk menyerupai tabung tersebut selanjutnya akan melalui proses inkubasi selama 12-24 jam, dalam rentang waktu tersebut diharapkan sudah terjadi pembuahan antara sel telur dengan sperma yang ditambahkan.

Adapun dalam beberapa kasus, terutama pada pria yang memiliki kualitas sperma rendah, perlu adanya intervensi berupa penyuntikan langsung ke sel telur yang sudah matang atau bisa juga disebut sebagai intracytoplasmic sperm injection (ICSI).

Baca juga: Macam-macam Tes Kesuburan Wanita untuk Persiapan Hamil

6. Proses Transfer Embrio

Proses transfer embrio bisa dibilang sebagai tahapan terakhir dalam prosedur IVF bayi tabung. Proses ini biasanya akan dilakukan dalam waktu 3-5 hari setelah sel telur berhasil dibuahi oleh sperma. 

Perlu diketahui, hari kelima merupakan tahapan dimana embrio sudah masuk ke dalam fase blastosit, itu artinya embrio sudah memiliki bentuk rongga-rongga kecil dan mampu menempel dengan baik di dinding rahim.

Langkah-langkah transfer embrio bayi tabung:

  • Dokter akan memberikan bius agar calon ibu tidak merasakan sakit selama menjalani prosedur transfer embrio
  • Kemudian, dokter memasukkan selang fleksibel (kateter) dari lubang vagina hingga menuju rahim
  • Selanjutnya embrio terbaik yang sudah dipilih akan disuntikkan ke dalam rahim calon ibu melalui selang fleksibel tersebut.
  • Dokter akan meminta Anda untuk berbaring selama beberapa jam 

Setiap proses transfer embrio biasanya memerlukan 2-5 embryo, sementara jika ada sisa bisa dilakukan prosedur pembekuan untuk jaga-jaga jika prosesnya gagal atau jika ingin memiliki keturunan kembali di masa yang akan datang. 

Adapun, indikator keberhasilan pada proses transfer embrio sendiri bisa dilihat ketika embrio yang tertanam mampu menempel pada dinding rahim selama lebih kurang 6-10 hari. 

Kemungkinan Risiko Program IVF Bayi Tabung

Sebelum memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung sebaiknya Anda dan pasangan juga mempelajari beberapa risikonya sebagai berikut ini:

1. Tekanan Mental dan Fisik

Tidak bisa dipungkiri, prosedur bayi tabung membutuhkan ekstra tenaga, biaya, serta kondisi mental yang luar biasa, terutama bagi calon ibu. Oleh sebab itu, pasien yang ikut menjalani prosedur bayi tabung biasanya mengalami stress atau tekanan mental.

2. Memicu Sindrom Hiper Stimulasi Ovarium (OHSS)

Berdasarkan penjelasan dari Cleveland Clinic, Sindrom Hiperstimulasi Ovarium adalah kondisi dimana tubuh melakukan respon balasan saat menerima hormon berlebih. Sumber yang sama menyebutkan bahwa OHSS bisa menyebabkan ovarium mengalami pembengkakan.

Persentasenya sendiri kurang lebih ada 2% calon ibu yang mengalami hal ini ketika menjalani proses bayi tabung. Penyebabnya kemungkinan besar dipicu oleh efek samping obat peningkat kesuburan.

3. Mengalami Kehamilan Ektopik

Mayo Clinic mengungkapkan bahwa prosedur bayi tabung bisa memicu risiko kehamilan ektopik. Komplikasi kehamilan ektopik sendiri merupakan keadaan dimana embrio yang sudah ditanam tidak menempel di bagian dinding rahim, melainkan di tempat lain.

Kehamilan di luar rahim biasa terjadi di rongga perut, tuba falopi hingga leher rahim. Tanda-tanda kejadian ini bisa dirasakan ketika mengalami sakit perut hebat, muncul bercak darah ringan, hingga keputihan yang cenderung berwarna gelap.

Baca juga: Ketahui Gejala dan Penyebab Hamil Diluar Kandungan Berikut Ini

4. Anak Lahir Kembar

Bagi beberapa pasangan, memiliki bayi kembar bukanlah tujuan utama mengikuti program bayi tabung. Meski begitu, menurut data WHO prosedur ini memiliki statistik hingga 17% kasus kehamilan kembar.

Itulah penjelasan terkait IVF bayi tabung yang perlu Anda ketahui. Mengingat ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan ketika menjalani proses ini, maka sebaiknya Anda dan pasangan melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan. Anda juga bisa mencari informasi terkait klinik bayi tabung terpercaya yang sudah memiliki fasilitas serta teknologi memadai seperti Morula IVF.