embryo cloning

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, semakin banyak pula cara untuk memperoleh keturunan. Salah satunya yakni dengan metode kloning embrio, sebuah prosedur medis yang memiliki kaitan erat terhadap bayi tabung ini bertujuan menghasilkan individu baru dengan kondisi fisik serta anatomi identik seperti pendonor sel yang dikembangkan.

Terlepas dari pro dan kontra, kloning sendiri sebenarnya bukan hal baru mengingat proses ini sudah berhasil dilakukan untuk menghasilkan domba dolly yang identik pada era tahun 1950-an. Namun, bagaimana dengan kloning embrio pada manusia? 

Agar lebih jelas, mari kita simak bersama-sama terkait kloning embrio, mulai dari pengertian, jenis serta cara kerjanya. Berikut selengkapnya.

Apa Itu Kloning Embrio?

Kloning adalah istilah yang digunakan untuk menyebut proses produksi satu atau lebih individu manusia, binatang, atau tanaman, baik secara keseluruhan maupun sebagian dari gen untuk menghasilkan individu identik.

Arti kata kloning sendiri berasal dari bahasa Yunani (kloon) yang memiliki arti tunas. Bicara soal kloning pada manusia, prosedur ini relatif lebih tepat disebut sebagai artificial twinning atau kembar buatan, mengingat prosesnya dilakukan dengan cara meniru mekanisme tumbuh kembang kembar alami.

Sejarah kloning pertama kali dicoba pada tahun 1950-an, menggunakan domba sebagai target percobaan. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil inti sel pada tubuh domba kemudian sel tersebut dimasukkan kedalam lapisan sel telur domba agar bisa terfertilisasi.

Jenis-Jenis Kloning 

Hingga saat ini diketahui terdapat tiga tipe kloning yang bisa dilakukan untuk manusia. Pertama adalah kloning DNA dewasa, kedua kloning terapi, dan yang terakhir adalah kloning embrio. Inilah penjelasan selengkapnya dari masing-masing jenis kloning tersebut.

1. Kloning Embrio

Seperti kita ketahui, kloning embrio adalah istilah medis yang digunakan untuk menjalankan proses produksi dua atau tiga monozigot secara identik. Prosedur ini tercatat sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam, publikasi pertama terkait kloning embrio dirilis oleh Robert J. Stillman dan rekannya dari Rumah Sakit George Washington di Amerika Serikat.

Cara kerja atau prosedur kloning embrio secara umum yakni dengan  memindahkan satu atau lebih sel dari embrio yang telah mengalami pembuahan atau fertilisasi. Hasilnya kemudian dioptimalkan agar bisa berkembang menjadi beberapa embrio duplikat yang identik.

Salah satu upaya kloning embrio pernah dilakukan dengan mengambil sebanyak 17 embrio manusia, dimana secara genetik dinilai cacat dan sudah mati selama beberapa hari. Embrio yang diambil dari ovum yang sudah terfertilisasi oleh dua sperma tersebut sukses dipisahkan ovumnya hingga siap untuk dikloning.

2. Kloning DNA Dewasa

Tipe kloning berikutnya adalah kloning DNA dewasa. Tujuan utama dari prosedur ini yakni untuk menghasilkan individu duplikat yang identik dengan makhluk hidup yang sudah ada. 

Cara kerjanya antara lain dengan mengambil sampel DNA dari makhluk hidup yang sudah ada, kemudian memasukkan ke dalam ovum sebagai pengganti DNA sel sebelumnya. Setelah ovum berhasil melalui proses pembuahan, selanjutnya pra-embrio diimplantasi ke dalam kandungan sehingga bisa berkembang menjadi individu baru sesuai keinginan .

Baca juga: Mengenal Proses Fertilisasi dan Syarat Terjadinya

3. Kloning Terapi

Prosedur dan cara kerja kloning terapi sedikit banyak hampir mirip seperti kloning DNA dewasa. Sistem kerjanya yakni dengan memindahkan sel stem dari pre-embrio dengan tujuan untuk menghasilkan jaringan atau keseluruhan organ sebagai metode transplantasi pada seseorang melalui DNA.

Manfaat yang menjadi latar belakang terciptanya tipe kloning terapi yakni untuk memproduksi salinan atau tiruan organ dan jaringan sehat dari seseorang, agar bisa dilakukan transplantasi kepada individu yang sedang sakit. 

Dengan menjalankan prosedur ini, secara medis kita bisa menghasilkan donor organ secara tidak terbatas untuk menyelamatkan hidup manusia. Bahaya dan risiko dari teknik kloning ini pun tidak terlalu besar sehingga tidak banyak mendapat penolakan dari pasien terkait.

Perbedaan Kloning Embrio dan Kloning Transfer Inti 

Pasti Anda bertanya-tanya terkait perbedaan kloning embrio dan kloning transfer inti? Secara ilmiah keduanya memang bisa dibilang berbeda, untuk kloning transfer inti prosedurnya dilakukan dengan memanfaatkan ovum dan sel somatik. Sesuai namanya, zigot dari aktivitas ini dihasilkan melalui proses transplantasi inti ke dalam sel ovum.

Sementara itu, pada kloning embrio dilakukan dengan memanfaatkan sel sperma serta ovum. Adapun zigot yang dibentuk oleh prosedur medis ini terjadi melalui proses fertilisasi in vitro. 

Perbedaan antara kloning embrio dan kloning transfer inti juga bisa dilihat dari hasil akhir, dimana individu hasil proses kloning embrio mempunya sifat yang sama seperti induk donor yang menyumbangkan sel telur. Sedangkan individu hasil kloning transfer inti mempunyai sifat yang sama dengan induk donor sel somatik. 

Contoh aktivitas kloning inti merupakan domba dolly, sedangkan contoh kloning embrio adalah prosedur bayi tabung.

Keuntungan Kloning Embrio

Meski belum berhasil dan masih menemui banyak kendala, kloning embrio manusia dipercaya mampu memberikan dampak positif di masa depan. Salah satu keuntungan dari aplikasi bioteknologi kloning embrio di antaranya adalah mampu mempermudah pasangan yang ingin memiliki keturunan.

Jika di masa depan teknologi kloning embrio sudah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan, maka perempuan yang sulit memperoleh keturunan bisa memanfaatkan prosedur ini dalam proses bayi tabung. 

Caranya yakni dengan menanamkan lebih dari satu embrio kedalam rahim, hasil kloning dari sel telur istri dan sel sperma yang terbentuk dari hubungan seksual sehingga peluang memiliki keturunan akan semakin besar. 

Selain mengoptimalkan proses bayi tabung, keuntungan lain dari aplikasi bioteknologi kloning embrio adalah dapat menentukan jumlah anak yang ingin dilahirkan, mengatur interval jarak kelahiran, hingga menentukan jenis kelamin agar sesuai keinginan.

Resiko dari Aktivitas Kloning Embrio Manusia

Aktivitas kloning manusia sejak dulu sampai saat ini masih menyisakan ruang perdebatan. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab, pasalnya ada beberapa alasan dan resiko yang mendasarinya. Berikut beberapa di antaranya.

1. Terkait Persoalan Etika

Jika melakukan kloning pada hewan saja masih sering menemui tantangan etik, maka aktivitas kloning embrio manusia tentu akan punya masalah yang sama. Terlepas keuntungan dari aplikasi bioteknologi kloning embrio yang akan didapatkan, untuk saat ini permasalahan etika masih belum menemukan titik terang.

2. Tidak Ada Jaminan Hasil Sama

Tujuan dari melakukan kloning salah satunya adalah untuk mendapatkan kualitas yang setara seperti aslinya. Adapun dalam hal kloning manusia, prosedur tersebut mungkin memang bisa menghasilkan fisiologi serta aspek anatomi sama, akan tetapi secara karakter dan sifatnya tidak akan bisa 100 persen serupa.

Baca juga: Spermatogenesis, ini Faktanya!

3. Proses Fertilisasi Tidak Sempurna

Perlu diketahui, proses kloning embrio manusia dilakukan dengan prosedur yang sama seperti bayi tabung atau biasa juga disebut sebagai in vitro fertilization. Salah satu tahapan utamanya yakni menyatukan sel telur menggunakan mekanisme tertentu, dimana hal ini cukup beresiko terhadap kesehatan rahim.

4. Berdampak Terhadap Kualitas Hidup

Dalam beberapa kasus, aktivitas kloning yang dilakukan pada binatang menimbulkan anomali. Sehingga mempengaruhi kualitas hidup dan pertumbuhan. Misalnya, ada binatang yang disebut menderita large offspring syndrome, ketika di dalam kandungan embrio tumbuh terlalu besar sehingga menimbulkan cacat dari lahir.

Sebagai sesama manusia yang punya perasaan dan hati nurani, kondisi tersebut tentu tidak ingin dialami oleh mereka yang nantinya tinggal di sekitar kita.

Itulah pembahasan terkait kloning embrio pada kesempatan kali ini. Untuk saat ini kloning embrio memang masih menyisakan ruang perdebatan dari segi etika maupun agama. Kendati demikian, bukan tidak mungkin prosedur ini bisa diterapkan di masa depan.