syarat dan tahapan donor sperma

Teknologi yang terus berkembang membuat siapa saja bisa memperoleh keturunan dengan berbagai cara, termasuk donor sperma untuk bayi tabung. Ya, donor sperma belakangan ini mulai banyak dilakukan di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika, meskipun di Indonesia tidak.

Donor sperma merupakan tindakan sukarela dari seorang pria untuk menyumbangkan sperma miliknya untuk pasangan yang belum atau tidak dapat memiliki keturunan. Nantinya sperma yang didonorkan tersebut akan dimasukkan ke rahim wanita melalui proses inseminasi buatan, atau dapat juga melalui proses bayi tabung.

Lantas bagaimana syarat dan tahapan donor sperma untuk bayi tabung? Apakah cara ini cukup aman dilakukan guna mendapatkan keturunan? Yuk, simak ulasan berikut ini.

Apa Itu Donor Sperma

Sebelum mengetahui bagaimana syarat dan tahapan donor sperma untuk bayi tabung, ada baiknya Anda mengetahui terlebih dahulu apa itu donor sprema. Seperti yang sedikit disinggung diatas, donor sperma merupakan pemberian air mani yang mengandung sperma dari seorang pria guna membantu wanita atau pasangan untuk mendapatkan keturunan.

Selanjutnya dilakukan proses inseminasi atau penanaman sperma pada wanita sampai terjadi kehamilan. Proses kehamilan melalui donor sperma dapat juga dilakukan melalui proses bayi tabung.

Meskipun sudah banyak dilakukan di negara maju, namun  donor sperma masih mengundang pro dan kontra di sejumlah kalangan. Inilah yang membuat praktek donor sperma belum dapat dilakukan secara legal di Indonesia.

Baca juga: Berikut 5 Proses Bayi Tabung yang Harus Anda Ketahui

Syarat dan Tahapan Donor Sperma

Meskipun tampak mudah, donor sperma untuk bayi tabung membutuhkan proses dan tahapan yang cukup sulit dan panjang. Pria yang hendak mendonorkan spermanya harus memenuhi kriteria dan syarat yang ditetapkan. Terdapat juga tahapan yang perlu dilalui sampai kemudian sperma tersebut dapat diberikan pada pasangan lain atau ditampung oleh bank sperma.

Syarat 

Berikut ini beberapa syarat dan kriteria yang harus dimiliki pria yang hendak melakukan donor sperma untuk bayi tabung:

  1. Masih berusia produktif (usia 18 sampai 39 tahun)
  2. Sehat secara jasmani
  3. Memiliki kualitas sperma yang baik
  4. Tidak memiliki riwayat penyakit
  5. Tidak memiliki ketergantungan dengan narkoba
  6. Lulus pemeriksaan kesehatan secara fisik, psikis, dan genetik

Tahapan

Sedangkan tahapan atau proses dilakukannya donor sperma antara lain sebagai berikut:

1. Pemeriksaan Latar Belakang

Pria yang hendak melakukan donor sperma perlu melakukan pemeriksaan latar belakang terlebih dahulu. Ia akan diminta untuk mengisi kuesioner mengenai dirinya. Mulai dari riwayat kesehatan, tinggi badan, berat badan, ras, pola hidup, hingga riwayat pekerjaan.

Hal ini sangat diperlukan karena untuk menjadi pendonor sperma, seorang pria harus memenuhi sejumlah kriteria yang ditentukan. Nantinya pihak penerima sperma tidak akan mengetahui identitas pendonor, oleh karena itu harus dipastikan bahwa pendonor merupakan orang yang tepat.

2. Pemeriksaan Fisik dan Psikis

Setelah calon pendonor sperma mengisi sejumlah kuesioner, selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan layak tidaknya ia menyumbangkan sperma miliknya. Pemeriksaan ini berupa tes darah dan kultur yang hasilnya digunakan untuk memeriksa apakah ia memiliki penyakit yang berpotensi menular ke anak atau tidak.

Prosedur donor sperma menetapkan bahwa pria yang memiliki riwayat penyakit tertentu seperti HIV, herpes, serta hepatitis tidak dapat melakukan donor sperma untuk bayi tabung maupun inseminasi. Pasalnya, sejumlah penyakit ini dapat menular secara langsung pada anak yang dilahirkan. 

Selain itu, calon pendonor juga perlu melakukan pemeriksaan psikis. Pemeriksaan ini dilakukan melalui serangkaian tes serta wawancara. Hasilnya, calon pendonor tidak diperbolehkan mengidap penyakit mental atau psikis yang menimbulkan dampak di kemudian hari.

Baca juga: Tanda dan Gejala Gangguan Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

3. Pemeriksaan Genetik

Pria yang melakukan donor sperma untuk bayi tabung selanjutnya akan melakukan pemeriksaan genetik yang merupakan salah satu tahapan donor sperma. Ia akan diperiksa oleh tim medis secara khusus untuk melihat ada tidaknya kelainan genetik.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil darah serta urin untuk kemudian diuji di lab khusus. Selanjutnya, akan diketahui secara pasti apakah calon pendonor dapat memberikan spermanya atau tidak.

4. Pemeriksaan Sperma

Pemeriksaan sperma juga penting dilakukan sebagai salah satu proses donor sperma. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, sperma calon pendonor harus memiliki kualitas yang baik dan layak. 

Nantinya calon pendonor diminta untuk melakukan ejakulasi dalam waktu 48 hingga 72 jam. Ejakulasi dapat dilakukan melalui hubungan intim atau masturbasi. Setelah sperma berhasil didapat, akan dilakukan uji analisis kelayakan sperma.

Kemudian sperma akan dibekukan untuk menguji ketahanannya. Jika sperma sehat dan memenuhi syarat, maka calon pendonor diperbolehkan untuk mendonorkan spermanya. 

5. Pengambilan Sperma

Setelah sperma dinyatakan sehat, maka calon pendonor diminta untuk menandatangani surat persetujuan donor sperma. Surat persetujuan tertulis ini yang akan menjadi bukti di kemudian hari jika terjadi sesuatu terkait donor sperma.

Selanjutnya, pria yang akan menyumbangkan spermanya juga akan diminta untuk melakukan ejakulasi lagi sama seperti saat melakukan pemeriksaan. Ejakulasi dilakukan selama kurang lebih 3 hari untuk memastikan bahwa sperma dalam kondisi yang terbaik.

Setelah itu, sperma akan ditampung di wadah khusus lalu dibekukan selama kurang lebih 6 bulan. Sperma juga akan diperiksa kembali untuk meminimalisir adanya risiko penyakit yang ditularkan melalui sperma tersebut.

Jika sperma dikatakan sehat dan aman, maka akan dilakukan uji kualitas dan kuantitas serta pergerakannya. Tujuannya adalah untuk menghindari adanya kerusakan sel sperma selama proses pembekuan berlangsung. Tentunya sperma diharapkan dalam kondisi baik agar dapat membuahi sel telur baik melalui program bayi tabung.

Proses ini memakan waktu yang cukup panjang hingga kemudian sperma dapat diberikan kepada pasangan atau wanita yang membutuhkannya. Nantinya sperma akan dimasukkan ke rahim wanita melalui proses bayi tabung. Dapat juga dilakukan melalui proses inseminasi hingga akhirnya wanita tersebut bisa hamil dan melahirkan.

Nah, itulah proses donor sperma untuk bayi tabung yang bisa dilakukan untuk membantu pasangan yang ingin mendapatkan keturunan dengan cara yang lain. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa proses ini belum legal di Indonesia dan masih mengundang kontroversial di sejumlah kalangan.