ca endometrium adalah

Ca Endometrium adalah kanker yang menyerang bagian dalam lapisan rahim. Kanker ini biasanya dialami oleh wanita yang telah memasuki menopause yakni berusia 55 tahun ke atas. Kanker yang dimulai pada uterus ini ditandai dengan terjadinya pendarahan abnormal pada vagina.

Kanker endometrium terbagi dalam 2 tipe. Yaitu tipe 1, yang paling umum terjadi, di mana perkembangan sel terjadi non-agresif dan bisa terdeteksi sejak dini, dan tipe 2 yang sifatnya lebih agresif sehingga perkembangan dan penyebaran sel kankernya jauh lebih cepat. Untuk memahami lebih lanjut tentang Ca Endometrium atau kanker endometrium, simak penjelasannya berikut ini.

Penyebab Ca Endometrium

ca endometrium adalah

Penyebab dari kanker endometrium sebenarnya masih belum diketahui secara pasti. Akan tetapi kanker uterus ini bisa diduga karena adanya keseimbangan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita. Kadar estrogen yang tinggi menyebabkan terjadinya penebalan lapisan rahim, atau disebut dengan hiperplasia endometrium.

Wanita dengan kondisi tertentu juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Mengalami obesitas.
  • Belum pernah hamil.
  • Sudah memasuki masa menopause.
  • Mulai haid saat usia sangat muda (kurang dari 12 tahun).
  • Mengalami menopause lebih lambat dari wanita pada umumnya (lebih dari 50 tahun).
  • Pernah menjalani terapi hormon tamoxifen untuk penderita kanker payudara.
  • Mengalami sindrom HNPCC atau hereditary nonpolyposis colorectal cancer.

Gejala Ca Endometrium

ca endometrium adalah

Gejala kanker endometrium bisa dilihat dengan mudah, yaitu dari pendarahan vagina. Gejala ini sudah mulai muncul sejak kanker stadium awal. Pendarahan ini umum terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause. Namun bagi penderita yang belum mengalami menopause, gejala yang dirasakan adalah:

  • Terdapat bercak darah di luar masa haid.
  • Saat haid, darah yang keluar jauh lebih banyak dan masa menstruasinya lebih dari 7 hari.
  • Siklus haid terjadi 21 hari atau lebih cepat.
  • Terjadi pendarahan sebelum atau setelah berhubungan seksual.

Untuk wanita yang sudah menopause, selain mengalami pendarahan, gejala lain yang mungkin timbul antara lain:

  • Nyeri ketika berhubungan seksual.
  • Nyeri bagian panggul atau perut bagian bawah.
  • Terjadinya keputihan encer setelah memasuki masa menopause.

Jika kanker sudah memasuki stadium lanjut, maka akan menimbulkan gejala tambahan berupa mual, nyeri punggung, hingga kehilangan nafsu makan.

Diagnosis Ca Endometrium

ca endometrium adalah

Untuk menduga seorang wanita menderita kanker endometrium, dokter akan mendiagnosa dari gejala-gejala serta pemeriksaan fisik. Sedangkan untuk memastikannya, perlu dilakukan tes lanjutan. Adapun jenis pemeriksaan untuk mendiagnosis Ca endometrium yaitu:

  • Pemeriksaan pelvis atau panggul, untuk mendeteksi kelainan pada rahim dan ovarium.
  • USG transvaginal, untuk melihat tekstur dan ketebalan endometrium melalui rekaman gambar rahim.
  • Histeroskopi, menggunakan alat khusus untuk melihat endometrium dan kondisi dalam rahim.
  • Biospi endometrium, pengambilan sampel jaringan lapisan rahim untuk dianalisa di laboratorium.
  • Dilatasi dan kuretase, adalah proses pengerokan jaringan dalam rahim menggunakan alat khusus, dilakukan bersamaan dengan prosedur biospi.

Jika kanker sudah memasuki stadium lanjut, maka akan dilakukan pemeriksaan seperti CT scan, PET svan, MRI, rontgen dan sistoskopi atau konoloskopi. Dokter kemudian akan menentukan stadium kanker berdasarkan tingkat penyebarannya, yaitu:

  • Stadium I : masih berada di dalam rahim
  • Stadium II : sudah mulai menyebar ke leher rahim
  • Stadium III : telah menyebar hingga ke luar rahim (kelenjar getah bening panggul)
  • Stadium IV: sudah menyebar ke organ tubuh lain seperti kandung kemih dan usus besar

Pengobatan Ca Endometrium

Pengobatan Ca endometrium ditentukan berdasarkan stadium, kondisi kesehatan, tipe kanker, serta lokasi kanker. Adapun jenis pengobatan ca endometrium adalah:

  • Operasi.
  • Kemoterapi.
  • Radioterapi.
  • Terapi hormon.